Dana membeludak itu berasal dari kemitraan regional antara UNDP, Kedutaan Besar Swedia di Bangkok serta USAID. Tidak hanya komunitas LGBTI Indonesia, komunitas serupa di China, Filipina serta Thailand juga mendapat dukungan sertaa dari proyek UNDP itu.
Proyek ini dimulai Desember 2014 sampai September 2017. “Inisiatif ini berfungsi untuk memajukan kesejahteraan lesbian, gay, biseksual, transgender serta interseks (LGBTI) orang, serta mengurangi ketimpangan serta marginalisasi atas dasar orientasi seksual serta bukti diri gender (SOGI),” demikian keterangan tertulis yang dikutip Sindonews dari website resmi UNDP, Jumat (12/2/2016).
Menurut keterangan UNDP, inisiatif ini adalah kolaborasi dengan masyarakat sipil, yang melibatkan lembaga-lembaga nasional serta regional untuk memajukan hukum serta kebijakan protektif.
”Inisiatif mengakui bahwa populasi LGBTI tertentu, tergolong lesbian, gay, pria serta perempuan transgender serta serta orang interseks menghadapi beragam pengalaman pada bukti diri mereka yang tak sama gender, ekspresi, serta konteks sosial budaya,” lanjut keterangan UNDP.
UNDP merinci tujuan dari proyek tersebut. Di antaranya, mendukung hak-hak LGBTI melewati pembangunan serta pemberdayaan masyarakat sampai menanggulangi stigma, diskriminasi serta mengakhiri praktik-praktik berbahaya tergolong pelanggaran HAM kepada individu LGBTI melewati mobilisasi masyarakat untuk terlibat dalam obrolan dengan stakeholder kunci (organisasi keagamaan, sektor swasta, aparat penegak hukum serta lembaga pendidikan).
Artikel keren lainnya: